Minggu, 10 Juni 2012

Keunikan Mata Uang Kesultanan Buton “KAMPUA”

Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu2nya yang pernah beredar di Indonesia.Menurut cerita rakyat Buton,Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.
Pada jaman bertahtanya Sultan Buton yang keempat,yaitu Sultan Dayan Ihsanudin (La’ Elangi),sekitar tahun 1597-1631 perdagangan di kerajaan Buton mengalami masa kejaan. Para pedagang dari daerah2 lain,termasuk pedagang2 dari Cina dan Portugis datang dengan kapal2nya ke kerajaan Buton. Mengingat bahwa semua transaksi di wilayah kerajaan Buton harus menggunakan uang Kampua,maka sebelumnya para pedagang tersebut harusmenukarkan uang uang mereka dengan uang Kampua. Penukaran dilakukan kepada Money Changer yang banyak terdapat di pelabuhan,ataupun di lokasi2 perdagangan. Setelah selesai berdagang,mereka boleh menukarkan sisa uang Kampua yang dimilikinya dengan mata uang yang diinginkan. Namun tentunya ada juga pedagang2 yang tidak menukarkan,tetapi menyimpan Kampua itu sebagai kenang-kenangan”Uang aneh” dari Buton.
Dalam proses pembuatan dan pered aran uang Kampua inimandat sepenuhnya diserahkan kepada Mentri Besar atau yang disebut “Bonto Ogena”.Dialah yang akan melakukan pengawasan serta pencatatan atas setiap lembar kain Kampua,baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong. Penghitungan mengenai situasi dan kondisi wilayah serta jumlah perkembangan penduduk yang ada,perlu diperhitungkan agar jumlah peredaran Kampua tetap dapat terkontrol dan tidak menimbulkan inflasi. Pengawasan oleh BontoOgena juga diperlukan agar tidak timbul pemalsuan2,sehingga hampir setiap tahunya motif dan corak Kapua akan selalu dirubah-rubah.
Setelah kain2-kain selesai ditenun,kemudian untuk dipotong2 untuk menjadi uangKampua. Pemotongan lembar kain menjadi Kampua itu juga ada prosedurnya yang juga ditentukan oleh Mentri Besar. Cara pemotonganya adalah dengan mengukur panjang dan lebar Kampua,dengan cara : Ukuran empat jari untuk lebarnya,dan sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke ujung jari tangan,untuk panjangnya. Sedangkan tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang Mentri Besar atau “Bonto Ogena” itu sendiri! Oleh karenanya ukuran lebar dan panjang Kampua yangdiproduksi tidak selalu sama,tergantung dari panjang pendeknya ukuran tangan Mentri Besar yang saat itu berkuasa. Jika nantinya yang menjadi Mentri Besar mempunyai tangan yang pendek,maka ukuran Kampua akan menjadi pendek pula. Sebaliknya jika “Bonto Ogena” mempunyai tangan yang lebih panjang,maka hasil jadi Kampua akan menjadi lebih panjang,sesuai dengan ukuran tanganya.
Pada awal pembuatanya,standard yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu “bida” (lembar) Kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam. Namun dalam perkembangan selanjutnya,standard ini diganti dengan nilai “Boka”,dimana satu Bida sama dengan 30 Boka. Ka adalah suatu standard nilai yang umum digunakan oleh masyarakat Buton,yang biasanya digunakan pada waktu upacara2 adat perkawinan,kematian,dan sejenisnya.
Namun setelah Belanda mulai memasuki wilayah Buton kira2 tahun 1851,fungsi Kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan dengan uang2 buatan “Kompeni”. Sampai akhirnya nilai Kampua menjadi sangat tidak berarti,dimana pada waktu itu nilai tukar untuk 40 lembar Kampua sama dengan 10 sen duit tembaga,atau setiap 4 lembar Kampua hanya mempunyai nilai sebesar 1 sen saja!. Walaupun demikian Kampua tetap digunakan pada desa2 tertentu diKepulauan Buton sampai dengan tahun 1940.
Sumber :
Kintamoney Blogspot

Sultan Himayatuddin (Oputa Yi Koo), Sultan Buton, Hingga Wafat Tak Pernah Berhasil Ditangkap Belanda

Oleh : Bardin, S.Pd
Sejarah kesultanan Buton mencatat terjadinya perang besar melawan pemerintah Belanda di masa pemerintahan Sultan Himayatuddin (La Karambau / Oputa Yi Koo Sultan Buton ke-20 dan ke-23) sekitar tahun 1755.

Pada masa itu terjadi pertempuran antara pasukan kesultanan Buton dan pemerintah Belanda yang menimbulkan banyak korban dari kedua belah pihak.
Diantara korban yang gugur termasuk para petinggi kesultanan Buton diantaranya Sapati, Kapitalau, Bonto Ogena, raja Lawele dan Tondana serta mantan Raja Rakina (Susanto Zuhdi : Labu Rope Labu Wana, 1999 ; Ligtvoet, 1878-78-9)
Catatan sejarah ini mengundang para pemerhati dan peneliti sejarah diantaranya Prof DR Susanto Zuhdi, Drs Said. D serta budayawan Buton lain yang didukung para tokoh masyarakat untuk mengusulkan Sultan Himayatuddin (La Karambau / Oputa Yi Koo) sebagai sosok pahlawan Nasional.
Menurut Prof Susanto Zuhdi dalam seminar persiapan penyusunan Buku Biografi Sultan Himayatuddin (La Karambau / Oputa Yi Koo) di aula Rumah Makan Betoambari beberapa waktu lalu perjuangan Sultan Himayatuddin dalam menentang penjajahan Belanda di Buton telah memenuhi indicator untuk diajukan sebagai pahlawan nasional.
Meski selama ini sejarah Nasional setelah wacana NKRI terbentuk sejarah perjuangan tokoh pejuang Buton terkesan dikesampingkan karena munculnya versi ‘pengkhianat’ yang diberikan kepada Kesultanan Buton. Sebab, di masa lalu sejarah mencatat adanya kerjasama antara Buton dan pihak Belanda.
“Kondisi masa lalu sebelum Negara Kesatuan RI lahir yakni keberadaan kerajaan di Nusantara yang berdaulat termasuk satu diantaranya adalah Buton. Pada masa itu sebuah kerajaan berhak menentukan haluan politik luar negerinya termasuk menjalin kerjasama dengan semua pihak. Ini tidak bisa dijadikan rujukan jauh setelah wacana lahirnya Negara Kesatuan RI,” kata Prof Susanto Zuhdi.
Dalam draft buku Biografi Sultan Himayatuddin (La Karambau / Oputa Yi Koo), dimuat kronologis kegigihan Sultan Himayatuddin menentang pemerintahan Belanda di tanah Buton. Dijelaskan, kehadiran Belanda di Buton yang sebelum Sultan Himayatuddin naik tahta diterima dengan tangan terbuka.
Namun, kondisi itu mulai berubah setelah beberapa saat kemudian arogansi dari Belanda di Tanah Buton mulai tampak. Inilah yang ditentang oleh Sultan Himayatuddin dan siap melakukan perang terbuka melawan Belanda.
Dalam catatan sejarah Buton, Sultan Himayatuddin memiliki semangat yang sama dengan pahlawan nasional lainnya seperti pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Sultan Agung Pattimura yang gigih menentang kehadiran Belanda di tanah air hingga bangsa ini lepas dari kungkungan penjajah.

GAJAH MADA : "SUMPAH PALAPA"

Setelah wafatnya Raden Wijaya tahun 1309 dan digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Jayanegara, Pemerintahan Kerajaan Majaphit sering dironrong oleh berbagai pemberontakan yang dilakukan oleh para dharmaputra atau pejabat istana, antara lain ; pemberontakan Nambi tahun 1316, pemberontakan Semi tahun 1318 dan pemberontakan Kuti tahun 1319. Ketika terjadi pemberontakan Kuti inilah muncul nama Gajah Mada. Ia adalah anggota pasukan pengawal Raja Jayanegara yang berhasil menyelamatkan raja dalam peristiwa Bedander. Ketika itu Raja Jayanegara mengungsi dan sebagai imbalannya Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan dan selanjutnya menjadi Patih di Daha.
Setelah Raja Jayanegara wafat digantikan oleh Tribhuwanatunggadewi dan tak lama terjadi pemberontakan Sedeng tahun 1331 dan berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada. Sebagai balasan jasanya Gajah Mada diangkat menjadi Perdana Menteri (Mangkubumi).
Pada saat dilantik inilah Gajah Mada mengucapkan suatu sumpah terkenal yang disebut Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu, Gajah Mada bertekad untuk tidak beristirahat sampai seluruh Nusantara dipersatukan dibawah panji Majapahit. Gajah Mada wafat tahun 1364 dan hingga saat ini belum jelas dimana disemayamkan. 
Para pakar sejarah hingga saat ini masih menyangsikan siapa sebenarnya Gajah Mada itu !! dan dari mana asal muasalnya !!, serta dimana letak makam aslinya. Hingga saat ini para ahli arkiologis belum pernah ada yang melakukan penelitian masalah lokasi asli kuburan Gajah Mada sehingga letak Makam Gajah Mada yang sebenarnya hingga saat ini belum ada persis yang mengetahuinya. Disamping itu juga kedatangannya dikerajaan Majapahit masih dianggap misterius karena semua lembaran sejarah Indonesia sampai saat ini belum ada pragraf yang menjelaskan masalah ini.
Muncul pertanyaan ; “Apa hubungan Kerajaan Majapahit dengan Buton” ?!. Jawabnya adalah berdasarkan fakta sejarah Buton, mengkisahkan bahwa sejak awal tahun 1236 sampai tahun 1300-san, pulau Buton telah dimasuki oleh orang-orang besar dan sakti mandraguna. Seperti misalnya Sipanjonga orang sakti berasal dari suku Melayu negeri Pasai dengan membawa pembantu utamanya bernama si Tamanajo. Berikut si Malui dan si Sajawankati dari Melayu Pariaman, Musarafatul Izzati al fakhriy (Wa Kaa Kaa) dari negeri Yastrib Madina yang merupakan keturunan Saiyida Ali Bin Abithalib membawa bersama Muhammad Ali Idrus, Dun Kung Sang Hiang sebagai panglima perang kaisar tiongkok (kubilaikan) dan Sang Ria Rana seorang pujangga Melayu. Selanjutnya muncul pula 3 (tiga) Orang kakak beradik, yakni anak Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit masing-masing bernama Raden Sibatera, Raden Jatubun (Bau Besi) dan Lailan Mangrani atau putri Lasem dlsb.
Seluruh orang-orang besar dan sakti tersebut datang kepulau Buton dengan mereka mencarinya berdasarkan perintah bathin atau petunjuk yang diperoleh dari orang tua atau leluhurnya, datang bersama dengan masing-masing 40 kepala keluarga. Dalam sejarah Buton, Raja pertama Buton yakni Wa Kaa Kaa serta Raden Sibatera hanya meiliki anak yang bernama Bula Wambona, sedangkan Raden Jatubun dan putri Lasem tidak jelas disebutkan kawin dengan siapa dan punya anak bernama siapa. Sehingga muncul hipotesis dalam tulisan ini, bahwa premis Gajah Mada merupakan anak yang berasal dari salah seorang dari kedua anak Raden Wijaya tersebut yakni Raden Jatubun atau putri Lasem. Sebagai sintesis adalah bahwa Gajah Mada setelah dewasa diutus kembali ke kerajaan Majapahit untuk memperkuat pasukan perang disana. Mengapa di utus ke Majapahit !?, Karena penguasa kerajaan ini masih erat bertalian darah dengannya. Adapun masuknya ketiga kakak beradik anak Raja Majapahit tersebut ke pulau Buton adalah jauh hari sebelum wafat ayahandanya yakni Raden Wijaya tahun 1309. Sehingga secara analisis dapat dikatakan bahwa Gajah Mada lahir akhir abad XIII dan ketika muncul di Jawa tahun 1319 usianya sudah cukup dewasa.
Kedatangan ketiga anak Raden Wijaya itu ke pulau Buton bukan secara kebetulan tetapi merupakan petunjuk dan perintah bathin sang Raja Raden Wijaya yang diperoleh dari hasil pertapaannya, mengingat ketika itu kerajaan yang dipimpinnya mengalami banyak pemberontakan yang datangnya berasal dari orang-orang dalam Istana sendiri, dan diperintahkan anaknya untuk mencari pulau Buton ini. Adapun tujuannya ; pertama adalah untuk menyelamatkan ke tiga anaknya yakni Raden Sibatera, Raden Jatubun dan putri Lasem dari serangan pemberontak yang muncul dalam lingkungan pejabat istana. Dimana pulau Buton yang dipilih pada saat itu merupakan negeri yang relative (negeri keresian) aman dan kedua ialah untuk menyebarkan pemerintahannya dan pengembangan Bandar baru diwilayah lain disamping penyebaran keturunan. Adapun Raden Wijaya berpesan: “Berangkatlah anak-anakku, berangkatlah 20 generasi nanti akan kembali bersatu dengan Bangsa Leluhurmu yaitu dalam Kebangsaan Nusantara”
Di Desa Lasalimu terdapat Gunung Mada, konon diceritakan sebagai tempat mula kembalinya Gajah Mada setelah meninggalkan kerajaan Majapahit dengan membawa pasukan setianya sebanyak 40 orang. Sedangkan di kelurahan Majapahit di Batauga, konon dicerikakan sebagai tempat wafatnya Gajah Mada yang terdapat didalam satu liang bersama 40 orang pengikutnya. Mereka secara bersama-sama menguburkan/menimbunkan diri mendampingi mahpati Gajah Mada di dalam liang itu. Demikian pula di gunung Takimpo konon juga diberitakan sebagai tempat makamnya Gajah Mada beserta 40 orang prajurit setianya.  Dan hasil tutur foklour masyarakat Liya disebutkan bahwa Gajah Mada Moksa di salah satu Goa di pulau Oroho wilayah Kerajaan Liya.
Begitu setianya para prajuritnya tak mau berpisah jauh dengan sang maha pati Gajah Mada setelah wafat. Selama 40 hari dan 40 malam secara terus menerus gendang para perajurit mengiringi jasad sang mahpatih Gajah Mada di dalam liang tersebut dan setelah hari ke-41 bunyi genderang sekaligus hilang sunyi senyap ibarat ditelan bersama keheningan alam. Menandakan bahwa seluruh prajurit setia Gajah Mada yang ikut menguburkan diri bersama Gajah Mada diliang tersebut sudah wafat semua. Konon dikisahkan bahwa sampai dengan saat ini pada malam-malam tertentu masyarakat disekitar liang tersebut yang terdapat disalah satu Desa di Kelurahan Majapahit Kecamatan Batauga masih sering mendengar bunyi genderang para parajurit Gajah Mada itu sehingga daerah ini termasuk disakralkan oleh penduduk setempat.
Jika hipotesis ini benar, berarti tak salah lagi bahwa Gajah Mada adalah cucu Raden Wijaya. Gajah Mada selama berada di pulau Buton sejak kecil sampai menjelang dewasa dibawa bimbingan orang-orang sakti dan dia telah menimba ilmu bathin dan kanukragan yang amat dasyat. Setelah usia Gajah Mada dipandang cukup dewasa (usia  antara  15 s/d 20 tahunan), barulah sang ayah mengutusnya kembali ke pulau jawa untuk memperkuat kerajaan pamannya yakni Raden Jaya Negara sebagai Raja Majapahit. Setelah selesai tugasnya dalam memperjuangkan bersatunya Nusantara dibawah Kerajaan Majapahit yang berlangsung selama kurang lebih 43 tahun. maha patih Gajah Mada akhirnya ia kembali lagi ke pulau Buton pada tahun 1364 untuk menemui kembali kedua orang tuanya. (dalam sejarah tahun 1364 diberitakan Gajah Mada wafat).

Dalam catatan Mpu Prapanca (Negarakertagama) jelas ada disebut Butun (buton), LIYA- wangiwangi, Selayar,dan Bontain, sebagai wilayah Kerajaan Majapahit.
“…..muwah tanah i bantayan pramuka bantayan len luwuk tentang udamakatrayadhi nikanang sunusaspupul ikangsakasanusanusa makassar butun banggawi kuni gra-LIYA-o wangi (ng) salaya sumba solo muar,….”( Mattulada mengutip buku ‘Gajah Mada’ karangan Muhammad Yamin, terbitan Balai Pustaka Jakarta tahun 1945). 

Begitu besar makna sumpah Palapa bagi Gajah Mada sehingga diapun berjanji untuk tidak akan pernah tidur sebelum seluruh Nusantara dapat dipersatukan oleh kerajaan Majapahit----adalah merupakan suatu perjuangan yang amat berharga pada zamannya. “Apakah semangat juang Gajah Mada ini masih dimiliki oleh para pemimpin bangsa kita saat ini, dalam memperjuangkan tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia” ??. Masih dalam tanda Tanya besar, sebab gaya kepemimpinan para pejabat kita saat ini ialah lebih cendrung kebaratan, konsepsi pola pikir dan tingkah laku kepemimpinan lebih individualistik, postulat merupakan produk kapitalistis, liberalistis, komunistis. Bukannya gaya kepemimpinan berdasarkan doktrin sesepuh para leluhur yang amat tersohor pada zamannya yang bersahaja, adil dan sederhana itu. Kata orang kampung ; “Amat sayanglah para pemimpin kita saat ini mereka tinggalkan begitu saja kebudayaan nenek moyang kita dahulu, tanpa mau mereka dengan sungguh - sungguh untuk mempelajarinya. Padahal disana para nenek moyang kita amat kaya akan sifat, sikap, gaya dan ilmu kepemimpinan”.
Semangat juang maha pati Gajah Mada yang tertuang dalam Doktrin Perjuangan Gajah Mada, meliputi 15 (lima belas) Sumpah Palapa sebagai esensi dasar soko guru dalam melangkah memperjuangkan kesatuan seluruh nusantara dalam kekuasaan Majapahit. Adapun isi Sumpah Palapa yang dikutif dalam naskah Bung Karno yang ditanda tangani 1 Maret 1955 yang tertera dalam dokumen Doktrin Perjuangan Penyelesaian Amanah Rakyat, sebagai berikut :
1.VIJ N A
Vijna artinya sifat Bijaksana yang khidmat. Sikap ini mencerminkan rasa tabah dalam keadaan genting, namun tidak lupa daratan dalam keadaan senang. Sikap ini juga mendidik kita untuk rendah hati, tidak pongah dan takabur atau sombong. Kita tidak perlu putus asa ketika menderita, tetapi tidak perlu lupa diri dalam keadaan senang. Didalam diri yang Vijna, terdapat rasa bersahaja yang seimbang.
2.MANTRIWIRYA
Mantriwirya,artinya sifat ini mendidik kita untuk menjadi pembela buat yang tertindas, menolong bagi yang teraniaya. Kita harus berani karena benar dan takut karena salah. Sikap ini mendidik kita berani karena ada sesuatu yang pelu dibela, bukan sesuatu yang perlu kita tundukkan dan kita kalahkan. Sikap ini datang dari kesadaran fikir, rasa dan raga yang menyatu serta berkebenaran yang sejati. Bukan karena perasaan diri kuat dan perkasa. Kekuatan hanya bisa menundukkan dan mengalahkan tapi tak pernah berhasil menciptakan kebenaran dan keadilan.
3.WICAKSANENG NAJA
Wicaksaneng Naja,artinya sikap ini mendidik kita berjiwa patriotik dan demokratis. Terhadap kawan dan lawan kita harus bersikap terbuka dan jantan. Sikap ini mendidik kita jangan suka menari di atas bangkai dan kuburan lawan. Musuh yang jujur itu kadang lebih baik dari kawan yang munafik. Dalam diri manusia selalu ada hal yang baik dan buruk. Tehadap keadaan ini kita harus bersikap bijaksana dan terbuka.
4.MATANGGWAN
Matanggwan,artinya sikap ini bertalian dengan kepercayaan atau rasa kepercayaan. Kalau kita diberi kepercayaan atau amanah, janganlah kita bersikap ingkar atau cidera. Sebab kepercayaan adalah tanggung jawab yang harus kita penuhi. Kita dipercaya bukan lantaran kita kuat dan perkasa, tapi lantaran kita mampu bertangungjawab terhadap kepercayaan yang kita terima sebagai amanah dari orang lain.
5.SATYA BHAKTI APRABHOE
Satya Bhakti Aprabhoe artinya, adalah sikap yang berhubungan dengan loyalitas kita pada atasan, pimpinan dan kenegaraan. Satya Bhakti memang soal loyalitas, tetapi loyalitas musti lahir dari rasa kesadaran dan bukan mitos atau dogma pribadi. Satya bhakti adalah kode etik pengabdian. Berarti itu bukan kultus pemujaan suatu terhadap seseorang yang kebetulan berkuasa.
6.SARJANA PASAMO
Sarjana Pasamo artinya, ialah sikap perwira atau sikap kesatria yang paripurna. Kesatria yang bersikap paripurna (sarjana pasamo) berhati tabah terhadap goncangan apapun. Sementara dia tetap taat pada pimpinan yang baik. Sikap ini mendidik kita supaya tetap berwajah manis dan ramah, sabar dan teguh pada pendirian. Kita kadang harus ikhlas kehilangan sesuatu dan tidak merasa miskin karena memberikan sesuatu. Juga tidak merasa sudah puas karena mencapai atau memiliki sesuatu.
7.WIGNIWAS
Wigniwas artinya, adalah sikap yang membicarakan tentang kewibawaan. Sebenarnya kewibawaan itu terletak pada diri pemimpin yang pandai dan mahir. Dalam hal ini dituntut untuk mahir dalam ilmu historika dan logika. Untuk itu memerlukan pula beberapa ilmu diantaranya ; Kosmology, Konmogonie, Polemos, Egosentros, Logos dan Eros. Disamping itu juga pandai pidato dan mengerti ilmu jiwa lingkungan. Sikap ini menunjukan pada adanya sikap yang tegus dalam prinsip, berani dalam mengambil prakarsa dan tuntas jika suatu langkah sudah diambil.
8.DIROTSABA
Dirotsaba artinya, adalah sikap intensif dalam segala hal. Tekun dalam pada sesuatu yang diyakininya akan berhasil baik. Berkesungguhan dalam berfikir dan berbuat. Juga dalam hal ini tanpa harus kehilangan rasa yang manusiawi. Apapun yang direncanakan dan dikerjakan , cara mengerjakannya itu tetap sungguh-sungguh dan bukan iseng. Biarpun dalam beberapa hal mempunyai kelemahan dan kekurangan, Namun seorang kesatria tidak akan terpengaruh. Dan keadaan ini tidak akan membikin keperibadian dan kebesaran pribadi kesatria menjadi sirna. Jadi sifat ini mendidik kepada kita untuk tetap tegar dan mempengaruhi suasana ataupun lingkungan tanpa terpengaruh sedikitpun.
9.TANLALANO
Tanlalano artinya, ialah sikap manusia yang polos dalam duka dan suka, manusia harus tetap berwajah cerah. Manusia tidak perlu lari dari kenyataan ataupun lari dari dirinya sendiri, apapun yang menimpa dirinya. Sikap ini juga mendidik kita untuk tetap waspada tetapi waspada dan hati-hati yang tanpa dilandasi rasa benci, dengki, curiga dan prasangka. Mahpatih Gajah Mada mengatakan maksud dari pada diri yang Tanlalano adalah manusia itu harus selalu Setiti, Ngastiti, Surti dan Ati-ati. Tetapi tanpa dilandasi dengan hati yang ; Iri, Dengki, Srei, Dahwen, Panasten dan Patiopen.
10.TANSATRISNA
Tansatrisna artinya, sikap ini menunjukan pada sikap kita untuk tidak memihak sejak kita tahu bahwa jalan yang sebenar benarnya telah kita miliki. Mahpatih Gajah Mada mengatakan bahwa kebenaran itu ada 5 (lima) macam, antara lain :
• Kebenaran yang sejati
• Kebenaran yang dapat diterima oleh seluruh bangsa
• Kebenaran yang hanya dapat diterima oleh satu golongan saja
• Kebenaran yang palsu
• Kebenaran yang sesat.
Sikap Tansatrisna ini mendidik kita untuk tidak pilih kasih dan pandang bulu. Tidak selalu berselera untuk pamrih dan tidak punya pertimbangan buat kepentingan diri sendiri. Berarti pula kita tidak punya selera untuk pamrih.
11.DWIGNYATCIPTA
Dwignyatcipta Artinya, sikap ini mendidik kita sopan santun atau suatu watak yang sangat berbudaya. Dalam berhubungan dengan manusia sesama akan tampil sikap kita yang tahu akan tata krama dan berbudi luhur. Dalam sikap ini sangat menonjol sekali nilai demokratis. Jiwa Gajah Mada yang agung. Sikap ini mengajarkan kepada kita supaya siap dan sedia serta rela mendengar pendapat orang lain kendatipun pendapat itu tidak kita setujui.
12.SIH SAMASTHA BHOEA ERA
Sih Samastha Bhoea Era Artinya, sikap ini membicarakan mengenai nilai-nilai yang patriotik. Seorang pahlawan tidak hanya cukup asal berani saja secara fisik, mental dan ideologi saja. Seorang pahlawan mesti harus mempunyai hati dan akhlak pahlawan, berbudi dan berjiwa pahlawan. Disamping itu harus dapat membentuk generasi muda pahlawan. Sikap tersebut sebagai ciri pahlawan dan untuk membesarkan pahlawan. Tetapi membesarkan pahlawan tidak sama dan bukan mendewakan pahlawan dan memuja buta pahlawan itu.
13.GYNONG PRATITDYA
Gynong Prattitdya Artinya, sikap ini berbicara tentang watak moral yang tinggi. Manusia yang baik harus selalu mengerjakan yang baik dan harus dapat membuang jauh segala tingkah laku serta perbuatan yang buruk. Menurut keterangan Mahpatih Gajah Mada, baik itu adalah tingkat terendah, sedangkan urutannya ialah Baik, Bijaksana dan Bajiksana. Dalam hal ini juga berbicara tentang jiwa dan watak keterbukaan. Sebab cuma orang yang berwatak terbuka maka dia berani membuang segala yang buruk dalam dirinya.
14.SOEMANTRI
Soemantri Artinya, sikap ini mendidik kita supaya memperlihatkan sikap yang selalu sadar, setai, teguh bulat dan utuh. Pribadi yang sumantri adalah memperlihatkan kepaduan antara ; Loyalitas, Dedikasi, Kreativitas, Dinamika dan Integritas diri manusia. Manusia yang Soemantri adalah manusia yang selalu ketiga kesadaran yang menyatu. Kesadaran itu ialah Kesadaran pikir, Kesadaran Rasa dan kesaaran raga. Disamping itu juga mengetahui ketiga kehendak, yakni kehendak yang disadari, Kehendak yang didorong oleh nafsu dan Kehendak yang supra.
15.HANYAKEN MOESOEH
Hanyaken Moesoeh Artinya, sikap ini kita dididik untuk dapat mengetahui dengan jelas dan mengendalikan dengan jelas mengenai musuh itu. Yang sebenarnya musuh itu mempunyai gambaran dua dimensi, yakni musuh yang fisik/wadag disebut musuh luar yang kelihatan/dapat dilihat. Musuh ini mudah diketahui dan dapat dikendalikan. Sehingga dengan demikian sehingga musuh yang diluar ini dapat kita jadikan sahabat dapat juga kita jadikan syarat kesuksesan kita.
Namun dalam penguasaan musuh ini kita harus ingat bahwa kita menang tapi kalau bisa jangan ada yang merasa dikalahkan. Selanjutnya terdapat musuh yang tidak kelihatan yakni musuh yang bersarang didalam diri kita sendiri. Musuh inilah yang agak susah kita kendalikan dan apalagi kita musnahkan. Rumah dari musuh yang tersamar ini adalah keinginan (krenteg, karep serta tumindak ). Kesemuanya ini memerlukan emosi, yang mana didalam diri kita terdapat dua jenisnya, ialah 6 akar kejahatan emosi dan 6 akar budi luhur emosi.

Ke lima belas butir Sumpah Palapa oleh Gajah Mada itu senantiasa diamalkan dan dijadikan pedoman dalam setiap kepemimpinan Raja-Raja Liya, Raja-Raja Wolio dan para Sultan di negeri Buton, sehingga ketika mereka memimpin amat  dihormati oleh masyarakatnya dan sangat disegani oleh lawan-lawannya. *

sumber : http://bumibuton.blogspot.com/2011/08/gajah-mada-sumpah-palapa.html

Sejarah Kesultanan Buton

Sebagai sebuah negeri, keberadaan Buton tercatat dalam Negara Kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Dalam naskah kuno itu, negeri Buton disebut dengan nama Butuni. Digambarkan, Butuni merupakan sebuah desa tempat tinggal para resi yag dilengkapi taman, lingga dan saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru.
Dalam sejarahnya, cikal bakal Buton sebagai negeri telah dirintis oleh empat orang yang disebut dengan Mia Patamiana. Mereka adalah: Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati. Menurut sumber sejarah lisan Buton, empat orang pendiri negeri ini berasal dari Semenanjung Melayu yang datang ke Buton pada akhir abad ke-13 M. Empat orang (Mia Patamiana) tersebut terbbaagi dalam dua kelompok: Sipanjongan dan Sijawangkati; Simalui dan Sitamanajo. Kelompok pertama beserta para pengikutnya menguasai daerah Gundu-Gundu; sementara kelompok kedua dengan para pengikutnya menguasai daerah Barangkatopa.Sipanjongan dan para pengikutnya meninggalkan tanah asal di Semenanjung Melayu menuju kawasan timur dengan menggunakan sebuah perahu palolang pada bulan Syaban 634 Hijriyah (1236 M). Dalam perjalanan itu, mereka singgah pertama kalinya di pulau Malalang, terus ke Kalaotoa dan akhirnya sampai di Buton, mendarat di daerah Kalampa. Kemudian mereka mengibarkan bendera Kerajaan Melayu yang disebut bendera Longa-Longa. Ketika Buton berdiri, bendera Longa-Longa ini dipakai sebagai bendera resmi di kerajaan Buton.Sementara Simalui dan para pengikutnya diceritakan mendarat di Teluk Bumbu, sekarang masuk dalam daerah Wakarumba. Pola hidup mereka berpindah-pindah hingga akhirnya berjumpa dengan kelompok Sipanjonga. Akhirnya, terjadilah percampuran melalui perkawinan. Sipanjonga menikah dengan Sibaana, saudara Simalui dan memiliki seorang putera yang bernama Betoambari. Setelah dewasa, Betoambari menikah dengan Wasigirina, putri Raja Kamaru. Dari perkawinan ini, kemudian lahir seorang anak bernama Sangariarana. Seiring perjalanan, Betoambari kemudian menjadi penguasa daerah Peropa, dan Sangariarana menguasai daerah Baluwu. Dengan terbentuknya desa Peropa dan Baluwu, berarti telah ada empat desa yang memiliki ikatan kekerabatan, yaitu: Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa dan Baluwu. Keempat desa ini kemudian disebut Empat Limbo, dan para pimpinannya disebut Bonto. Kesatuan keempat pemimpin desa (Bonto) ini disebut Patalimbona. Mereka inilah yang berwenang memilih dan mengangkat seorang Raja.
Selain empat Limbo di atas, di pulau Buton juga telah berdiri beberapa kerajaan kecil yaitu: Tobe-Tobe, Kamaru, Wabula, Todanga dan Batauga. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan-kerajaan kecil dan empat Limbo di atas kemudian bergabung dan membentuk sebuah kerajaan baru, dengan nama kerajaan Buton. Saat itu, kerajaan-kerajaan kecil tersebut memilih seorang wanita yang bernama Wa Kaa Kaa sebagai raja. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1332 M.
Berkaitan dengana asal-usul nama Buton, menurut tradisi lokal berasal dari Butu, sejenis pohon beringin (barringtonia asiatica). Penduduk setempat menerima penyebutan ini sebagai penanda dari para pelaut nusantara yang sering singgah di pulau itu. Diperkirakan, nama ini telah ada sebelum Majapahit datang menaklukkannya. Dalam surat-menyurat, kerajaan ini menyebut dirinya Butuni, orang Bugis menyebutnya Butung, dan Belanda menyebutnya Buton. Selain itu, dalam arsip Belanda, negeri ini juga dicatat dengan nama Butong (Bouthong). Ketika Islam masuk, ada usaha untuk mengkaitkan nama Buton ini dengan bahasa Arab. Dikatakan, nama Buton berasal dari kata Arab bathni atau bathin, yang berarti perut atau kandungan. 
Kerajaan Buton dan Islam
Dengan naiknya Wa Kaa Kaa sebagai raja, Kerajaan Buton semakin berkembang hingga Islam masuk ke Buton melalui Ternate pada pertengahan abad ke-16 M. Selama masa pra Islam, di Buton telah berkuasa enam orang raja, dua di antaranya perempuan. Perubahan Buton menjadi kesultanan terjadi pada tahun 1542 M (948 H), bersamaan dengan pelantikan Lakilaponto sebagai Sultan Buton pertama, dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Setelah Raja Lakilaponto masuk Islam, kerajaan Buton semakin berkembang dan mencapai masa kejayaan pada abad ke 17 M. Ikatan kerajaan dengan agama Islam sangat erat, terutama dengan unsur-unsur sufistik. Undang-undang Kerajaan Buton disebut dengan Murtabat Tujuh, suatu terma yang sangat populer dalam tasawuf. Undang-undang ini mengatur tugas, fungsi dan kedudukan perangkat kesultanan. Di masa ini juga, Buton memiliki relasi yang baik dengan Luwu, Konawe, Muna dan Majapahit. 
Silsilah
Berikut ini daftar raja dan sultan yang pernah berkuasa di Buton. Gelar raja menunjukkan periode pra Islam, sementara gelar sultan menunjukkan periode Islam.
 Raja-raja:
1. Rajaputri Wa Kaa Kaa
2. Rajaputri Bulawambona
3. Raja Bataraguru
4. Raja Tuarade
5. Rajamulae
6. Raja Murhum

Sultan-sultan:
1. Sultan Murhum (1491-1537 M)
2. Sultan La Tumparasi (1545-1552)
3. Sultan La Sangaji (1566-1570 M)
4. Sultan La Elangi (1578-1615 M)
5. Sultan La Balawo (1617-1619)
6. Sultan La Buke (1632-1645)
7. Sultan La Saparagau (1645-1646 M)
8. Sultan La Cila (1647-1654 M)
9. Sultan La Awu (1654-1664 M)
10. Sultan La Simbata (1664-1669 M)
11. Sultan La Tangkaraja (1669-1680 M)
12. Sultan La Tumpamana (1680-1689 M)
13. Sultan La Umati (1689-1697 M)
14. Sultan La Dini (1697-1702 M)
15. Sultan La Rabaenga (1702 M)
16. Sultan La Sadaha (1702-1709 M)
17. Sultan La Ibi (1709-1711 M)
18. Sultan La Tumparasi (1711-1712M)
19. Sultan Langkariri (1712-1750 M)
20. Sultan La Karambau (1750-1752 M)
21. Sultan Hamim (1752-1759 M)
22. Sultan La Seha (1759-1760 M)
23. Sultan La Karambau (1760-1763 M)
24. Sultan La Jampi (1763-1788 M)
25. Sultan La Masalalamu (1788-1791 M)
26. Sultan La Kopuru (1791-1799 M)
27. Sultan La Badaru (1799-1823 M)
28. Sultan La Dani (1823-1824 M)
29. Sultan Muh. Idrus (1824-1851 M)
30. Sultan Muh. Isa (1851-1861 M)
31. Sultan Muh. Salihi (1871-1886 M)
32. Sultan Muh. Umar (1886-1906 M)
33. Sultan Muh. Asikin (1906-1911 M)
34. Sultan Muh. Husain (1914 M)
35. Sultan Muh. Ali (1918-1921 M)
36. Sultan Muh. Saifu (1922-1924 M)
37. Sultan Muh. Hamidi (1928-1937 M)
38. Sultan Muh. Falihi (1937-1960 M).
 Periode Pemerintahan
Era pra Islam Kerajaan Buton berlangsung dari tahun 1332 hingga 1542 M. Selama rentang waktu ini, Buton diperintah oleh enam orang raja. Sementara periode Islam berlangsung dari tahun 1542 hingga 1960 M. Selama rentang waktu ini, telah berkuasa 38 orang raja. Sultan terakhir yang berkuasa di Buton adalah Muhammad Falihi Kaimuddin. Kekuasaannya berakhir pada tahun 1960 M.
 Wilayah Kekuasaan
Kekuasaan Kerajaan Buton meliputi seluruh Pulau Buton dan beberapa pulau yang terdapat di Sulawesi.
 Struktur Pemerintahan
Kekuasasan tertinggi di Kerajaan Buton dipegang oleh sultan. Struktur kekuasaan di kesultanan ditopang oleh dua golongan bangsawan: kaomu dan walaka. Walaka adalah golongan yang memegang adat dan pengawas pemerintahan yang dijalankan oleh sultan. Wewenang pemilihan dan pengangkatan sultan berada di tangan golongan Walaka, namun, sultan harus berasal dari golongan kaomu. Untuk mempermudah jalannya pemerintahan, Buton menjalankan sistem desentralisasi dengan membentuk 72 wilayah kecil yang disebut kadie. Beberapa jabatan yang ada di struktur pemerintahan Buton adalah bontona (menteri), menteri besar, bonto, kepala Siolimbona dan sekretaris sultan.
Kehidupan Sosial Budaya
Sebagai kerajaan Islam yang tumbuh dari hasil transmisi ajaran Islam di Nusantara, maka kerajaan Buton juga sangat dipengaruhi oleh model kebudayaan Islam yang berkembang di Nusantara, terutama dari tradisi tulis-menulis. Bahkan, dari peninggalan tertulis yang ada, naskah peninggalan Buton jauh lebih banyak dibanding naskah Ternate, negeri darimana Islam di Buton berasal. Peninggalan naskah Buton sangat berarti unutk mengungkap sejarah negeri ini, dan dari segi lain, keberadaan naskah-naskah ini menunjukkan bahwa kebudayaan Buton telah berkembang dengan baik. Naskah-naskah tersebut mencakup bidang hukum, sejarah, silsilah, upacara dan adat, obat-obatan, primbon, bahasa dan hikayat yang ditulis dalam huruf Arab, Buri Wolio dan Jawi. Bahasa yang digunakan adalah Arab, Melayu dan Wolio. Selain itu, juga terdapat naskah yang berisi surat menyurat antara Sultan Buton dengan VOC Belanda.
Kehidupan di bidang hukum berjalan denga baik tanpa diskriminasi. Siapapun yang bersalah, dari rakyat jelata hingga sultan akan menerima hukuman. Sebagai bukti, dari 38 orang sultan yang pernah berkuasa di Buton, 12 di antaranya mendapat hukuman karena melanggar sumpah jabatan. Satu di antaranya, yaitu Sultan ke-8, Mardan Ali (La Cila) dihukum mati dengan cara digogoli (dililit lehernya dengan tali sampai mati).
Dalam bidang ekonomi, kehidupan berjalan dengan baik berkat relasi perdagangan dengan negeri sekitarnya. Dalam negeri Buton sendiri, telah berkembang suatu sistem perpajakan sebagai sumber pendapatan kerajaan. Jabatan yang berwenang memungut pajak di daerah kecil adalah tunggu weti. Dalam perkembangannya, kemudian tejadi perubahan, dan jabatan ini ditingkatkan statusnya menjadi Bonto Ogena. Dengan perubahan ini, maka Bonto Ogena tidak hanya berwenang dalam urusan perpajakan, tapi juga sebagai kepala Siolimbona (lembaga legislatif saat itu). Sebagai alat tukar dalam aktifitas ekonomi, Buton telah memiliki mata uang yang disebut Kampua. Panjang Kampua adalah 17,5 cm, dan lebarnya 8 cm, terbuat dari kapas, dipintal menjadi benang kemudian ditenun menjadi kain secara tradisional.
Secara umum, ada empat prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat Buton dalam kehidupan sehari-hari saat itu yakni:
 1. Yinda Yindamo Arata somanamo Karo (Harta rela dikorbankan demi keselamatan diri)
2. Yinda Yindamo Karo somanamo Lipu (Diri rela dikorbankan demi keselamatan negeri)
3. Yinda Yindamo Lipu somanamo Sara (Negeri rela dikorbankan demi keselamatan pemerintah)
4. Yinda Yindamo Sara somanamo Agama (Pemerintah rela dikorbankan demi keselamatan agama)
 Buton adalah sebuah negeri yang berbentuk pulau dengan letak strategis di jalur pelayaran yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah di kawasan timur, dengan para pedagang yang berasal dari kawasan barat Nusantara. Karena posisinya ini, Buton sangat rawan terhadap ancaman eksternal, baik dari bajak laut maupun kerajaan asing yang ingin menaklukkannya. Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, maka kemudian dibentuk sistem pertahanan yang berlapis-lapis. Lapis pertama ditangani oleh empat Barata, yaitu Wuna, Tiworo, Kulisusu dan Kaledupa. Lapis kedua ditangani oleh empat Matana Sorumba, yaitu Wabula, Lapandewa, Watumotobe dan Mawasangka, sementara lapis ketiga ditangani oleh empat orang Bhisa Patamiana (pertahanan kebatinan). Untuk memperkuat sistem pertahanan berlapis tersebut, kemudian dibangun benteng dan kubu-kubu pertahanan. Pembangunan benteng dimulai pada tahun 1634 oleh Sultan Buton ke-6, La Buke. Tembok keliling benteng panjangnya 2.740 meter, melindungi area seluas 401.900 meter persegi. Tembok benteng memiliki ketebalan 1-2 meter dan ketinggian antara 2-8 meter, dilengkapi dengan 16 bastion dan 12 pintu gerbang. Lokasi benteng berada di daerah perbukitan berjarak sekitar 3 kilometer dari pantai.
Demikianlah deskripsi ringkas mengenai Kerajaan Buton. Saat ini, di bekas wilayah kerajaan ini, telah berdiri beberapa kabupaten dan kota yaitu: Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kota Bau–Bau. Kota Bau-bau ini merupakan pusat Kerajaan Buton pada masa dulu. Hingga saat ini, masih tersisa peninggalan kerajaan, di antaranya bangunan istana. 
 Sumber: melayuonline

RAHASIA BUTON PERJANJIAN RAHASIA INTERNASIONAL DiATAS KAPAL BELANDA KAREL DORMAN TAHUN 1948 ANTARA UTUSAN RATU BELANDA WELHELMINA, UTUSAN SOEKARNO DAN SULTAN BUTON

Oleh : Ali Habiu

Kisah ini (folklour) merupakan cerita yang beredar dikalangan tertentu masyarakat Buton dan penulis dapatkan dari DR (HC) La Ode Unga Wathullah, seorang penganut Tassauf, Pengkaji Filsafat dan Budaya Buton pada tahun 1976 lalu di Makassar. Cerita ini muncul ketika kami sedang menonton acara Televisi Republik Indonesia yakni masuknya bantuan Belanda ke Indonesia melalui organisasi IGGI. Dia mengatakan bahwa pada tahun 1948 diperairan pulau Buton telah dilakukan perjanjian rahasia internasional di atas Kapal Karel Dorman antara utusan khusus Ratu Belanda Welhelmina dengan utusan khusus Presiden Soekarno dan Sultan Buton Falihi atau Oputa Yii ba'dhia. Khusus utusan khusus Presiden Soekarno adalah seorang jenderal bisu. Dikatakan bisu karena selama turun dari Kapal Belanda Karel Dorman di Bau-Bau menemui Sultan Buton Falihi di Istana Kesultanan Buton, dia sama sekali tidak mau buka suara, namun hanya memberikan senyuman dan sekali-sekali muka memandangi ke atas dan kebawah. Kisah perjanjian rahasia ini hingga saat ini belum dipublikasikan dan hanya diketahui oleh kalangan tertentu para petinggi dan kerabat dekat kesultanan Buton. Dia mengatakan bahwa utusan Presiden Soekarno tersebut adalah orang Buton yang tinggal di jakarta dari kesatuan TNI yang sampai sekarang tidak jelas namanya, demikian pula utusan khusus Ratu Wilhelmina juga sampai saat ini belum jelas namanya.
Ketika menjelang akhir kekuasaan Ratu Belanda Welhelmina tanggal 4 September 1948, sebelum dia menyerahkan pucuk kekuasaannya kepada anak tunggalnya yang bernama Putri Juliana, dia mengingat kembali akan janjinya kepada leluhurnya di Buton. Disaat-saat perang berkecamuk antara tentara Belanda dan para pejuang kemerdekaan di pulau Jawa, maka Ratu Welhelmina memerintahkan orang kepercayaannya untuk segera diusahakan melakukan perjanjian dengan Presiden Soekarno dan Sultan Buton Falihi yang berlangsung secara rahasia di atas kapal Karel Dorman, dimana Soekarno menunjuk seorang jenderal bisu untuk mewakilinya.
Adapun isi perjanjian rahasia yang berlangsung di atas kapal Karel Dorman tahun 1948 meliputi :

  1. Pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia oleh Pemerintahan Kerajaan Belanda. Simbol janji berupa : pengakuan harus dilakukan di Belanda antara utusan Presiden Soekarno dan utusan kerajaan Belanda.
  2. Pengakuan kedaulatan irian Barat sebagai daerah kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia. Simbol janji, berupa : sepasang kambing warna putih laki-laki dan perempuan.
  3. Pengakuan akan membangun negeri Buton menjadi suatu negeri yang penuh cahaya (negeri makmur dan sentosa). Simbol janji, berupa : tiga buah alat janji (dalam tulisan ini tidak disebutkan)
Sebagai bukti atas telah diadakannya perjanjian rahasia di atas kapal Karel Dorman tersebut, setelah Sultan Falihi turun ke darat dan kembali ke Keraton Buton, dia ditemani seorang Belanda dengan membawa Lantera berupa lampu gantung dengan jumlah lampu 12 mata dan setibanya di Keraton Buton Lantera tersebut langsung digantung di dalam Mesjid Keraton Buton tepat di flapon tengah-tengah mesjid tersebut yang disaksikan oleh Sultan Buton Falihi dan para petinggi Istana Kesultanan Buton sebagai pertanda simbolik lambang pesan bahwa Belanda mempunyai utang dengan negeri Buton yang suatu saat nanti akan dibayarnya dengan membangun negeri Buton penuh kemegahan (negeri penuh cahaya).
Setahun kemudian sesudah dilakukan ketiga perjanjian ini, satu diantaranya telah dipenuhi oleh Belanda, yakni pengakuan kedaulatan negara Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag negeri Belanda pada tanggal 23 Agustus 1949 s/d 2 November 1949. Dalam KMB tersebut kecuali penyerahan Irian Barat belum diberikan kepada Indonesia masih menjadi wilayah dibawah kekuasaan Hindia Belanda karena sesuatu pertimbangan politik sampai situasi dan kondisi memungkinkan barulah diberikan kepada Indonesia. Sedangkan pembangunan negeri Buton yang akan dilakukan oleh Belanda sebagai "negeri penuh cahaya" masih menunggu masa yang ditentukan.
   
        La Ode Unga Wathullah meninggal dunia pada tanggal 24 Juli 2006 di Jakarta dalam usia 90 tahun, satu lagi putra asli negeri Buton terbaik yang selama hidupnya bergelut sebagai pencinta Filsafat dan Budaya Buton meninggalkan kita semua. Semoga amal baktinya diterima disisi Allah Subhana Wata'ala, amin.

Hasil Konferensi Meja Bundar
Adapun hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan di Den Haag Belanda pada tanggal 23 Agustus 1949 s/d 2 November 1949 secara lengkap sebagai berikut :
  1. Seterima kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, kecuali Papua Barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua Barat negara terpisah karena perbedaan ethnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Oleh karena itu, pasal 2 menyebutkan bahwa Papua Barat bukan bagian dari serah terima ini, bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
  2. Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan Monarch Belanda sebagai Kepala Negara.
  3. Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat sebesar 4,3 milyar gulden.
Substansi Penahanan Irian Barat (Papua Barat) dalam KMB...
Bila kita mau mengamati lebih jauh substansial politik dibalik mengapa Irian Barat ketika pelaksanaan KMB belum juga serta merta diserahkan oleh Belanda ke dalam daerah kekuasaan Indonesia, karena pada dasarnya Belanda sebetulnya bermaksud baik kepada Indonesia supaya disuatu saat yang tepat Irian Barat betul-betul masuk dalam kekuasaan Indonesia tanpa ada halangan satupun dari pihak-pihak lain. Perlu diketahui bahwa New Guinea atau Irian Timur jauh jauh hari sebelum pelaksanaan KMB di Den Haag Belanda sudah menjadi wilayah koloni Australia yang sudah sejak lama menginginkan Irian Barat masuk dalam wilayah kolono kekuasaannya. Pada konteksi demikian, Indonesia sangat beresiko bila masalah memperebutkan dan/atau mempertahankan kedaulatan Irian Barat ini dari kepentingan Australia seandainya saat itu juga Belanda menyerahkan kedaulatan Irian Barat kepangkuan Negara Indonesia. Mengapa demikian, karena angkatan perang Australia ketika itu cukup kuat karena mereka dibantu oleh sekutunya Amerika Serikat dan Inggeris yang juga punya minat untuk menguasai Indonesia.
Niat imperialisme Amerika Serikat kepada Indonesia untuk mendapatkan kontrol mutlak atas kekayaan alam dan sumber-sumber strategis yang dimiliki oleh seluruh wilayah kepulauan di Indonesia sudah diperlihatkan sejak memauki awal abad IX lalu.

Kondisi strategis Indonesia di saat itu telah Amerika Serikat perhitungkan sebagai Negara terkaya nomor lima terbesar di Dunia dibidang sumber-sumber daya alam. Selain sebagai produsen minyak yang nomor lima terbesar, Indonesia juga mempunyai cadangan-cadangan sumber daya alam berupa : timah, galena, bauksit, emas, perak, mangan, berlian, fosfat, nikel, tembaga, besi dan dibidang botani berupa : karet, kopi, minyak kelapa sawit, tembakau, gula, kelapa, rempah-rempah, kayu, kina yang memiliki potensi yang sangat besar.
Pada tahun 1939 yang pada waktu itu pemerinatah Belanda di Indonesia masih dipanggil West Indies Belanda, telah memasok lebih dari separoh dari total komsumsi bahan mentah yang penting bagi Amerika Serikat. Oleh karena itu Amerika Serikat sangat hati-hati dalam melakukan peranannya di kawasan Asia Tenggara agar tidak sampai mengganggu hegemoni politiknya terhadap Indonesia.
Dengan kondisi demikian itu, Hindia Belanda sangat tahu keadaan ini, sehingga setelah Kemedekaan Bangsa Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Belanda tetap membuat strategi bagi kelanggengan kekuasaannya di Indonesia melalui politik pecah belah dengan maksud agar tidak memberi peluang bagi masuknya Amerika Serikat dan sekutunya untuk menguasai seluruh potensi sumber daya alam yang terdapat di seluruh kawasan wilayah Indonesia sampai Belanda memperkirakan Indonesia telah mempunyai suatu kekuatan ekonomi, politik, pemerintahan dan pertahanan agar mampu mempertahankan diri sendiri dari serangan Amerika Serikat dan sekutunya dalam rangka mempertahankan kedaulatan negara Indonesia.

Upaya Perebutan Irian Barat oleh Tentara Indonesia...
Setelah Bung Karno melaksanakan Dekrit 5 Juli 1959 kemudian dilanjutkan dengan Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959 tentang Penemuan Kembali Revolusi Indonesia.
Dengan memperhitungkan kekuatan-kekuatan Revolusi dan Jiwa semangat rakyat berupa :

  • Pertama. UUD-1945 dan jiwa Revolusi 1945
  • Kedua. Hasil dari pada segala pikiran dan keringat rakyat sejak tahun 1945 hingga sekarang,
  • Ketiga. Makin bertumbunya kekuatan ekonomi yang menjadi milik nasional yang sudah melputi 70% dari seluruh kekuatan ekonomi yang berada di Indonesia,
  • Keempat. Angkatan perang yang makin lama semakin kuta dan administrasi pemerintahan semakin lama semakin baik,
  • Kelima. wilalay kesatuan Republik Indonesia yang kompak unitaristis dan amat luas dan yang letaknya amat strategis dalam politik dan ekonomi dunia serta jumlah rakyat sudah mencapai 88 juta orang.
  • Keenam. Kepercayaan dan keuletan bangsa sendiri yang sudah dibuktikan di zaman yang lampau.
  • Ketujuh. Kekayaan alam, kekayaan di atas dan kekayaan di dalam bumi tak ada bandingnya di seluruh dunia ini dan tak ada tandingnya didelapan penjuru angin.
Berdasarkan ketujuh kekuatan revolusi Indonesia itu disusunlah rencana untuk melawan Imperialisme Belanda di Irian Barat (Papua Barat). Dalam Manifesto Politik jelas dikatakan ; bahwa kita melawan imperialisme Belanda karena imperialisme ini menjajah Irian Barat. Jelas juga dikatakan bahwa pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat adalah suatu langkah strategis yang amat penting sekali. Tetapi belum semua modal Belanda diambil alih, belum semua perusahaan milik Belanda dinasionalisir, padahal sikap Belanda untuk Irian Barat tetap membandel. Jika mereka dalam persoalan klaim nasional kita, tetap berkepala batu, maka semua modal Belanda, termasuk yang berada di perusahaan-perusahaan campuran akan habis tamat riwayatnya sama sekali di "bumi Indonesia".
Bersamaan dengan semangat penemuan kembali Revolusi Indonesia, mulai tanggal 19 Desember 1961 bertempat di Jogyakarta, Presiden Soekarno mengeluarkan suatu komando yang dikenal dengan nama Tri Komando Rakyat (TRIKORA), dengan tuntutan sebagai berikut :
  1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua Belanda Kolonial,
  2. Kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia,
  3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum dalam rangka memprtahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
Sebagai langkah awal, tanggal 2 Januari 1962 dibentuklah Komando Operasi Mandala yang bertugas sebagai perencanaan operasi militer ke Irian Barat, dan pada tahun 1963 Irian Barat dikuasai oleh Indonesia. Dalam konteks pengarahan kekuatan militer melalui komando TRIKORA yang dikumandangkan tahun 1963 inilah membuat ambigius rencana imperialisme Amerika Serikat dan sekutunya ke Indonesia semakin melorot dan sudah tidak berani lagi.

Alat janji di Bawah ke Irian Barat...
Pada fase infiltrasi akhir tahun 1962, Presiden Soekarno memanggil seorang putra asli Buton dari asal desa Liya kepulauan Wang-Wangi yang terletak dibagian timur pulau Buton. Dia bernama La Ode Madhimuru yang diperintahkan oleh Soekarno untuk segera membawa alat janji Belanda, sesuai dengan kesepakatan pada butir dua perjanjian rahasia di atas Kapal Karel Dorman tahun 1948 tersebut, yaitu berupa 1 ekor kambing laki-laki warna putih dan 1 ekor kambing perempuan warna putih.  kedua kambing inilah yang diperintahkan oleh Presiden Soekarno kepada La Ode Madhimuru untuk segera membwanya dari jakarta menuju maluku. Dengan menumpang kapal perang, La Ode Madhimuru membawa kedua ekor kambing tersebut dan setibanya di Maluku, dia turun dikawasan pulau Aru perbatasan Irian Barat. Dari kepualaun inilah La Ode Madhimuru serta dibantu oleh masyarakat lokal dengan menggunakan keahliannya dia bisa menghilang secara ghaib dan kebal tidak bisa dimakan senjata api, dia membawa dua ekor kambing putih tersebut masuk ke wilayah Irian Barat tanpa bisa diteteksi oleh radar atau intelijen Belanda dan langsung menyusup kedalam kantor pembesar Belanda (controler). Tepat pada fase serangan terbuka awal tahun 1963, La Ode madhimuru melepas sepasang kambing putih laki-laki dan perempuan di depan kantor pembesar Belanda (controler) di Irian Barat dan seketika depan kantor mulai ribut menyaksikan dua ekor kambing tersebut lalu pembesar Belanda (controler) keluar melihat langsung sepasang kambing putih tersebut dan alangkah terkejutnya sang pembesar itu. Sang pembesar Belanda itu telah melihat alat janji yang telah disepakati di atas kapal Karel Dorman dan langsung memanggil semua penasehatnya dan mengatakan :

..."Tammatlah sudah kekuasaan kita..., janji kita sudah ditagih oleh Buton..., kita sudah harus melepaskan Irian Barat kepangkuan Bangsa Indonesia..."
 
Akhirnya pembesar Belanda tersebut memerintahkan kepada semua angkatan perangnya untuk tidak lagi membuat perlawanan kepada serangan tentara Indonesia di Irian Barat dan mulai saat itu mempersiapkan penarikan pasukan angkatan perang mereka untuk secara bertahap kembali ke Belanda. 

Demikianlah cerita ini dikisahkan langsung oleh La Ode Madhimuru kepada penulis blog ini di rumahnya ketika penulis berkunjung di Bandung pada tahun 1987 lalu dalam rangka sesuatu urusan penulis untuk integrasi di Institut Tekhnologi Bandung. La Ode Madhimuru, memiliki 3 orang istri dan terakhir bekerja sebagai kepala sekurity pada kantor cabang Bank Indonesia Bandung dan telah meninggal dunia pada tahun 1993 dalam usia 83 tahun. satu lagi putra asli daerah Buton kesayangan Soekarno meninggalkan kita semua, semoga semua amal kebaikannya dalam mengorbankan diri untuk mendapatkan Irian Barat masuk dalam kesatuan negara Republik Indonesia senantiasa mendapat rodho dari sang pencipta, amin.

Buton Negeri Penuh Cahaya...
Tinggal satu perjanjian lagi yang ditunggu-tunggu dan dinantikan oleh segenap para tetua, para sara, para sesepuh, keturunan, pewaris masyarakat negeri Buton yang mengetahui kisah rahasia ini, yakni berupa janji Belanda untuk memakmurkan Buton (wolio) menjadi sebuah negeri penuh cahaya. Bisa kita bayangkan..., negeri macam apa nantinya Buton ini bila janji Belanda ini sustu saat nanti dapat dipenuhinya; bisa dibilang mungkin negeri Buton merupakan negeri paling makmur di kawasan Asia bahkan dunia sekalipun. Kata leluhur.., hitung-hitung harta pulau Buton masih jauh lebih banyak dari pada Brunai Darussalam. 

Dalam bahasa Buton (bahasa Liya) disebutkan : Tesara nuwolio kumonta janji uwalanda ;..."mbeae amosio adosa uwalanda kua sara wolio hitu tapi aharta usiwulukano ara aka nobangune atogo nu wolio (butuni) no dhumari uwana umanusia ucahaya". (artinya : tidak akan habis utang Belanda kepada negeri Buton sebanyak tujuh lapis keturunannya jika mereka belum membangun negeri Wolio (Buton) menjadi negeri makmur sentosa atau negeri penuh cahaya).

Dari mana Belanda mendapatkan sumber dana untuk membiayai negeri Buton?. Tentu tak lain adalah dari sumber daya alam yang dimiliki oleh pulau Buton itu sendiri. Pada tahun 1768 telah dilakukan pengukuran geologi potensi sumber daya mineral pulau Buton oleh ahli dari Belanda dimana hasil pemetaan pengukuran ini ada tersimpan di Leiden Belanda. Semua harta yang terpendam didalam tanah pulau Buton sesuai dengan kesepakatan masa lampau hanya dapat digarap oleh Belanda dan Cina Tibet pada orang-orang tertentu yang memiliki simbol kode yang dapat dilihat langsung pada pelipisnya.

Oleh karena itu, sudah tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan waktu tidak begitu lama lagi Insya Allah, atas izin dan ridho tuhan yang mana esa, sang hieng widi, batara guru, janji Belanda ini akan segera terwujud, dengan melalui tanda-tanda alam secara simbolik berupa :"matahari bersinar warna hijau". 

 Sudah saatnya para pemuka adat Buton untuk merapatkan barisan..., perkuat sistem adatmu..., tegakkan sistem saramu..., tegakkan kembali adat Butuni mautil jam'ah!. Mulailah persiapkan alat-alat janji yang ketiga itu, sebab mungkin tidak lama lagi meraka Belanda datang beserta bangsa-bangsa lain membawa amanah janji yang diiringi oleh 12 bendera bangsa-bangsa di dunia sesuai dengan jumlah mata lampu pada Lantera yang tergantung dalam flapond tengah-tengah mesjid Keraton Buton yang bisa kita jumpai saat ini, dengan syarat harus sara wolio mampu memperlihatkan simbolisasi 3 buah janji yang sudah disepakati di atas kapal Karel Dorman tersebut. Oleh karena itu pada akhirnya saat ini seluruh kekuatan masyarakat Buton harus segera mendesak pemerintah daerah untuk segera bentuk Lembaga Adat Buton beserta intrumennya serta segera bentuk kembali susunan Sa'ra sehingga buton bisa kembali bangkit dengan budayanya. Bila perlu sinyal-sinyal ini pemerintah daerah segera bergaining untuk mengusulkan ke pemerintah pusat agar wilayah Keraton Wolia dan sekitarnya dijadikan Daerah Khusus Istimewa, kertan hanya dengan demikian kita memiliki legitimasi untuk menopang eksistensi Lembaga Adat dan sistem Sarana Wolio. Dalam kaitan ini mengingat konstelasi kejayaan kebutonan hingga saat ini belum ada satupun pemimpin (para Bupati, para Wali Kota) yang mampu mengangkat hal itu, maka sudah saatnya dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Buton masa bakti 2011-2016, pilihlah pemimpin yang memiliki potensi yang bisa merubah wajah Buton kembali jaya sesuai zamannya.

Pada akhirnya akan timbul pertanyaan : ..."Benarkah semua kisah ini?. ...Benarkah bahwa pada tahun 1948 pernah dilakukan perjanjian rahasia di atas Kapal Karel Dorman antara Sultan Buton, Utusan Presiden Soekarno dan Utusan Ratu Wilhelmina?. ..."Benarkah bahwa masuknya Belanda aabad XVI di Indonesia atas permintaan Sultan Buton atas pemerintahan Kerajaan Belanda, dengan mempertimbangkan bahwa para kerajaan besar yang terdapat di pulau Jawa seperti : Majapahit, Air Langga, Singosari, Mataram dlsb tidak mampu merpersatukan wilayah nusantara dari sabang sampai marauke secara utuh?. ..."Benarkah Soekarno itu masih berdarah Buton, sehingga dia selalu ada ikatan emosional dengan Sultan Buton?. 

Olehnya itu untuk menguak fakta-fakta akurat dibalik makna substansi kisah ini, masih diperlukan penelitian lebih lanjut secara mendalam yang dilakukan oleh para ahli antropologi budaya, para arkiologis, para sejarawan dan para sosiologi kontemporer.  Hasil penelitian diharapkan dapat mengungkapkan tabir kisah ini, sehingga masyarakat Indonesia dan masyarakat Internasional dapat mengetahui kebesaran pulau Buton pada zamannya.****
 
sumber:http://albutuni.blogspot.com/

ARTI BUAH NENAS SEBAGAI SIMBOL KESULTANAN BUTON

Nenas adalah tanaman buah yang dapat hidup di segala tempat baik di tanah subur maupun tandus dengan aroma yang sangat harum dan mempunyai rasa yang cukup manis, serta mempunyai daun yang berduri – duri. Disamping sebagai tumbuhan peliharaan tetapi juga sebagai tanaman benteng pertahanan. Karena itu tumbuhan nenas mempunyai bagian – bagian yang mengandung makna, yaitu :


  1. Pada bagian atas mempunyai daun Mahkota menggambarkan payung dan dianggap sebagai Pimpinan yang senantiasa mengayomi rakyatnya;
  2. Pada bagian buah terdapat sisik yang sangat banyak sebagai rakyat umum dengan mendiami 72 Kadie (wilayah);
  3. Daun yang berduri adalah gambaran jiwa untuk mempertahankan diri dari segala gangguan keamanan dan ketertiban dari manapun datangnya;
  4. Buah yang manis adalah mencerminkan kebaikan dengan menempatkan prinsip kerendahan hati, sopan santun tutur kata dan tidak menyakiti orang lain;
  5. Pada bagian pangkal bawah buah nenas terdapat daun yang melebar adalah landasan berpijak seluruh masyarakat yaitu sara patanguna, dengan  (empat prinsip hidup) yaitu :
  • Pomae maeka : Saling menghargai sesama manusia;
  • Popia piara : Saling memelihara sesama manusia;
  • Pomaa maasiaka : Saling menyayangi sesama manusia;
  • Poangka angkataka : Saling menghargai sesama manusia;
  •  Pomae maeka : Saling takut sesama manusia;

Oleh karena itu simbol ini adalah makna hubungan antar sesama manusia dengan mengedepankan prinsip keadilan, persatuan dan kesatuan, juga hubungan antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpin.***

SEKILAS SISTEM PERTAHANAN KERAJAAN BUTON

Eksistensi Kerajaan Buton sejak berdirinya pada pertengahan abad ke 14 Masehi sampai memasuki era Pemerintahan Kesultanan pada Medio abad ke 16 merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kecenderungan Global yang terjadi pada saat itu, khususnya tatanan politik, sosial, ekonomi maupun pertahanan keamanan.

Buton yang berada di Kawasan Timur Nusantara sejak awal abad ke 17 merupakan arena pertarungan kepentingan antar kerajaan yang ada di wilayah ini yaitu Ternate maupun Gowa, juga termasuk kekuatan-kekuatan asing utamanya Belanda.

Konsekwensi logis Kesultanan Buton berada pada persimpangan jalur pelayaran yang menghubungkan Kawasan Barat dan Timur Nudantara maupun wilayahnya terdiri dari pulau yang terbesar antara Laut Banda dan Laut Flores memiliki Potensi yang sangat besar akan terjadinya gangguan keamanan baik dari luar maupun di dalam wilayah kesultanan. Menyadari akan hal tersebut maka oleh penguasa kesultanan Buton mengambil kebijaksanaan membangun suatu pertahanan untuk melindungi dan mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Dalam menghadapi ancaman yang akan muncul maka beberapa strategi yang ditempuh oleh penguasa Kesultanan Buton dengan membangun sistem pertahanan berlapis yang berintikan pertahanan rakyat semesta dengan menerapkan falsafah perjuangan masyarakat Buton.
“Yinda yindamo arata somanamo karo”
“Yinda yindamo Karo somanamo Lipu”
Yinda yindamo Lipu somanamo Sara”
Yinda yindamo Sara somanamo Agama”
Artinya Biarlah harta jadi korban asal diri selamat
Biarlah diri jadi korban asal negeri selamat
Biarlah negeri jadi korban asal Pemerintah selamat
Biarlah Pemerintah jadi korban asal Agama selamat

Demikian halnya dalam pengorganisasian sistem pertahanan dan keamanan Kesultanan Buton mengenal pertahanan Empat Penjuru berlapis yaitu :
  1. 1. Pertahanan Barata (Barata berarti menjaga keseimbangan dan kestabilan), dalam hal ini saling membantu agar tetap mempertahankan kelangsungan pemerintahan kesultanan.

Dalam pemahaman politik bahwa “barata” merupakan kerajaan kecil yang diberi otonomi dalam mengatur urusan rumah tangganya sendiri, terkecuali di bidang pertahanan dan keamanan wilayah secara kolektif, tanggung jawab berada pada pemerintah Kesultanan Buton melalui Angkatan Perang atau Kapitalau. Barata yang dimaksud adalah
-          Barata Muna yang menjaga dan memelihara keamanan dibagian utara Kesultanan Buton
-          Barata Tiworo yang menjaga dan memelihara keamanan di bagian Barat Kesultanan Buton
-          Barata Kaledupa yang menjaga dan memelihara keamanan di bagian Selatan Kesultanan Buton
-          Barata Kulisusu yang menjaga dan memelihara keamanan di bagian Timur Kesultanan Buton

Dari Ke-empat Barata ini bila dalam mengahdapi serangan musuh selalu melakukan koordinasi satu sama lain untuk memperkokoh sistem pertahanan yang mereka bangun, terkecuali sudah tidak mampu menghadapi musuh maka selanjutnya akan meminta bantuan dari pusat pemerintahan kesultanan Buton. Pertahanan Barata ini adalah pertahanan terluar atau lapisan pertama yang lebih dahulu menghancurkan musuh sebelum masuk dalam wilayah inti kesultanan.

2. Pertahanan Matana Sorumba (Terkonotasi Jarum yang sangat tajam) yaitu prajurit dalam menjaga wilayah daratan Kesultanan Buton merupakan anggota masyarakat yang telah terpilih, terlatih dan teruji kemampuannya dalam hal keprajuritan. Adapun matana sorumba tersebut adalah :
-          Lapandewa adalah masyarakat prajurit yang mengawasi dan menjaga keamanan serta menghalau musuh yang datang dari arah utara Kesultanan Buton
-          Mawasangka adalah masyarakat prajurit yang mengawasi dan menjaga keamanan serta menghalau musuh yang datang dari arah barat Kesultanan Buton
-          Wabula adalah masyarakat prajurit untuk menjaga keamanan, mengusir dan menghancurkan musuh yang datang dari arah selatan Kesultanan Buton
-          Watumotobe adalah masyarakat prajurit untuk menjaga keamanan, mengusir dan menghancurkan musuh yang datang dari arah Timur Kesultanan Buton.

Kelompok masyarakat matana sorumba tersebut mempunyai keahlian dan kelebihan yang dimiliki dalam menghadapi musuh secara langsung dengan menggunakan sistem ofensif maupun defensif serta merupakan sistem perang gerilya.

Mereka secara keseluruhan mengetahui seluk beluk tentang medan geografis wilayah Kesultanan Buton yang berhutan dan bergunung-gunung.

3. Pertahanan Bonto adalah tugas untuk menjaga keutuhan ibu kota Kesultanan Buton yang di kelilingi sebuah benteng. Inti kekuatan pertahanan Kesultanan Buton ada                          pada pata limbona terdapat dalam wilayah Keraton Wolio yang setiap limbo dipimpin oleh seorang Bonto.



Bontona Gundu menjaga wilayah benteng sebelah barat
Bontona Peropa menjaga wilayah benteng sebelah selatan
Bontona Barangka Topa menjaga wilayah benteng sebelah utara
Bontona Baluwu menjaga wilayah benteng sebelah timur
Keempat Bonto tersebut disamping sebagai aparat pemerintah kesultanan juga mempunyai tugas ekstra sebagai pertahanan.
Dalam perkembangannya tidak hanya ke-empat Bonto ini saja yang mengawasi Benteng Wolio tetapi seluruh bonto yang ada terutama Sio Limbona bahkan seluruh masyarakat yang mendiami kawasan Wolio Ibu Kota Kesultanan Buton.

4. Pertahanan Bhisa patamiana yang mempunyai tugas dalam pertahanan adalah pertahanan kebathinan yang mempunyai kedudukan dalam Ibu Kota Keraton Wolio dengan mengandalkan kekuatan supranatural dalam mengetahui keberadaan musuh pemerintah Kesultanan. Mereka berupaya untuk menghancurkan musuh yang akan merong-rong keutuhan wilayah dan pemerintah Kesultanan Buton atas izin Yang Maha Kuasa. Bhisa Ptamiana ini identik dengan moji yang mempunyai posisi dalam sutruktur Sara Agama di Kesultanan Buton. Moji yang dimaksud adalah :
  1.  Mojina Kalau mempunayi wilayah pengawasan pertahanan bathin pada bagian selatan dimulai dari pulau Batuatas sampai Pulau Moromahu
  2.  Mojina Silea mempunyai wilayah pengawasan pertahanan kebathinan sebelah timur dari Pulau Moromahu sampai Pulau Wawoni’i.
  3.  Mojina Peropa mempunyai wilayah pengawasan kebathinan sebelah utara dari Pulai Wawoni’i sampai Pulau Sagori
  4.  Mojina Waberongalu mengawasi wilayah barat dari Pulau Sagori sampai Pulau Batuatas.

Pada Prinsipnya bahwa sistem pertahanan yang diterapkan oleh pemerintah Kesultanan Buton tidak berdiri sendiri melainkan satu kesatuan yang tak terpisahkan antara Barata, Matana Sorumba, Pata Limbona, maupun pertahanan Bhisa Patamiana dengan menerapkan sistem pertahanan rakyat semesta secara keseluruhan, tak terkecuali bila ada gangguan, serangan dari pihak musuh maka secara spontan seluruh lapisan masyarakat mengambil bagian untuk berjuang menghancurkan musuh dalam rangka mempertahankan Kesultanan Buton.