Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

ARTI BUAH NENAS SEBAGAI SIMBOL KESULTANAN BUTON

Nenas adalah tanaman buah yang dapat hidup di segala tempat baik di tanah subur maupun tandus dengan aroma yang sangat harum dan mempunyai rasa yang cukup manis, serta mempunyai daun yang berduri – duri. Disamping sebagai tumbuhan peliharaan tetapi juga sebagai tanaman benteng pertahanan. Karena itu tumbuhan nenas mempunyai bagian – bagian yang mengandung makna, yaitu :


  1. Pada bagian atas mempunyai daun Mahkota menggambarkan payung dan dianggap sebagai Pimpinan yang senantiasa mengayomi rakyatnya;
  2. Pada bagian buah terdapat sisik yang sangat banyak sebagai rakyat umum dengan mendiami 72 Kadie (wilayah);
  3. Daun yang berduri adalah gambaran jiwa untuk mempertahankan diri dari segala gangguan keamanan dan ketertiban dari manapun datangnya;
  4. Buah yang manis adalah mencerminkan kebaikan dengan menempatkan prinsip kerendahan hati, sopan santun tutur kata dan tidak menyakiti orang lain;
  5. Pada bagian pangkal bawah buah nenas terdapat daun yang melebar adalah landasan berpijak seluruh masyarakat yaitu sara patanguna, dengan  (empat prinsip hidup) yaitu :
  • Pomae maeka : Saling menghargai sesama manusia;
  • Popia piara : Saling memelihara sesama manusia;
  • Pomaa maasiaka : Saling menyayangi sesama manusia;
  • Poangka angkataka : Saling menghargai sesama manusia;
  •  Pomae maeka : Saling takut sesama manusia;

Oleh karena itu simbol ini adalah makna hubungan antar sesama manusia dengan mengedepankan prinsip keadilan, persatuan dan kesatuan, juga hubungan antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpin.***

SEKILAS SISTEM PERTAHANAN KERAJAAN BUTON

Eksistensi Kerajaan Buton sejak berdirinya pada pertengahan abad ke 14 Masehi sampai memasuki era Pemerintahan Kesultanan pada Medio abad ke 16 merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kecenderungan Global yang terjadi pada saat itu, khususnya tatanan politik, sosial, ekonomi maupun pertahanan keamanan.

Buton yang berada di Kawasan Timur Nusantara sejak awal abad ke 17 merupakan arena pertarungan kepentingan antar kerajaan yang ada di wilayah ini yaitu Ternate maupun Gowa, juga termasuk kekuatan-kekuatan asing utamanya Belanda.

Konsekwensi logis Kesultanan Buton berada pada persimpangan jalur pelayaran yang menghubungkan Kawasan Barat dan Timur Nudantara maupun wilayahnya terdiri dari pulau yang terbesar antara Laut Banda dan Laut Flores memiliki Potensi yang sangat besar akan terjadinya gangguan keamanan baik dari luar maupun di dalam wilayah kesultanan. Menyadari akan hal tersebut maka oleh penguasa kesultanan Buton mengambil kebijaksanaan membangun suatu pertahanan untuk melindungi dan mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Dalam menghadapi ancaman yang akan muncul maka beberapa strategi yang ditempuh oleh penguasa Kesultanan Buton dengan membangun sistem pertahanan berlapis yang berintikan pertahanan rakyat semesta dengan menerapkan falsafah perjuangan masyarakat Buton.
“Yinda yindamo arata somanamo karo”
“Yinda yindamo Karo somanamo Lipu”
Yinda yindamo Lipu somanamo Sara”
Yinda yindamo Sara somanamo Agama”
Artinya Biarlah harta jadi korban asal diri selamat
Biarlah diri jadi korban asal negeri selamat
Biarlah negeri jadi korban asal Pemerintah selamat
Biarlah Pemerintah jadi korban asal Agama selamat

Demikian halnya dalam pengorganisasian sistem pertahanan dan keamanan Kesultanan Buton mengenal pertahanan Empat Penjuru berlapis yaitu :
  1. 1. Pertahanan Barata (Barata berarti menjaga keseimbangan dan kestabilan), dalam hal ini saling membantu agar tetap mempertahankan kelangsungan pemerintahan kesultanan.

Dalam pemahaman politik bahwa “barata” merupakan kerajaan kecil yang diberi otonomi dalam mengatur urusan rumah tangganya sendiri, terkecuali di bidang pertahanan dan keamanan wilayah secara kolektif, tanggung jawab berada pada pemerintah Kesultanan Buton melalui Angkatan Perang atau Kapitalau. Barata yang dimaksud adalah
-          Barata Muna yang menjaga dan memelihara keamanan dibagian utara Kesultanan Buton
-          Barata Tiworo yang menjaga dan memelihara keamanan di bagian Barat Kesultanan Buton
-          Barata Kaledupa yang menjaga dan memelihara keamanan di bagian Selatan Kesultanan Buton
-          Barata Kulisusu yang menjaga dan memelihara keamanan di bagian Timur Kesultanan Buton

Dari Ke-empat Barata ini bila dalam mengahdapi serangan musuh selalu melakukan koordinasi satu sama lain untuk memperkokoh sistem pertahanan yang mereka bangun, terkecuali sudah tidak mampu menghadapi musuh maka selanjutnya akan meminta bantuan dari pusat pemerintahan kesultanan Buton. Pertahanan Barata ini adalah pertahanan terluar atau lapisan pertama yang lebih dahulu menghancurkan musuh sebelum masuk dalam wilayah inti kesultanan.

2. Pertahanan Matana Sorumba (Terkonotasi Jarum yang sangat tajam) yaitu prajurit dalam menjaga wilayah daratan Kesultanan Buton merupakan anggota masyarakat yang telah terpilih, terlatih dan teruji kemampuannya dalam hal keprajuritan. Adapun matana sorumba tersebut adalah :
-          Lapandewa adalah masyarakat prajurit yang mengawasi dan menjaga keamanan serta menghalau musuh yang datang dari arah utara Kesultanan Buton
-          Mawasangka adalah masyarakat prajurit yang mengawasi dan menjaga keamanan serta menghalau musuh yang datang dari arah barat Kesultanan Buton
-          Wabula adalah masyarakat prajurit untuk menjaga keamanan, mengusir dan menghancurkan musuh yang datang dari arah selatan Kesultanan Buton
-          Watumotobe adalah masyarakat prajurit untuk menjaga keamanan, mengusir dan menghancurkan musuh yang datang dari arah Timur Kesultanan Buton.

Kelompok masyarakat matana sorumba tersebut mempunyai keahlian dan kelebihan yang dimiliki dalam menghadapi musuh secara langsung dengan menggunakan sistem ofensif maupun defensif serta merupakan sistem perang gerilya.

Mereka secara keseluruhan mengetahui seluk beluk tentang medan geografis wilayah Kesultanan Buton yang berhutan dan bergunung-gunung.

3. Pertahanan Bonto adalah tugas untuk menjaga keutuhan ibu kota Kesultanan Buton yang di kelilingi sebuah benteng. Inti kekuatan pertahanan Kesultanan Buton ada                          pada pata limbona terdapat dalam wilayah Keraton Wolio yang setiap limbo dipimpin oleh seorang Bonto.



Bontona Gundu menjaga wilayah benteng sebelah barat
Bontona Peropa menjaga wilayah benteng sebelah selatan
Bontona Barangka Topa menjaga wilayah benteng sebelah utara
Bontona Baluwu menjaga wilayah benteng sebelah timur
Keempat Bonto tersebut disamping sebagai aparat pemerintah kesultanan juga mempunyai tugas ekstra sebagai pertahanan.
Dalam perkembangannya tidak hanya ke-empat Bonto ini saja yang mengawasi Benteng Wolio tetapi seluruh bonto yang ada terutama Sio Limbona bahkan seluruh masyarakat yang mendiami kawasan Wolio Ibu Kota Kesultanan Buton.

4. Pertahanan Bhisa patamiana yang mempunyai tugas dalam pertahanan adalah pertahanan kebathinan yang mempunyai kedudukan dalam Ibu Kota Keraton Wolio dengan mengandalkan kekuatan supranatural dalam mengetahui keberadaan musuh pemerintah Kesultanan. Mereka berupaya untuk menghancurkan musuh yang akan merong-rong keutuhan wilayah dan pemerintah Kesultanan Buton atas izin Yang Maha Kuasa. Bhisa Ptamiana ini identik dengan moji yang mempunyai posisi dalam sutruktur Sara Agama di Kesultanan Buton. Moji yang dimaksud adalah :
  1.  Mojina Kalau mempunayi wilayah pengawasan pertahanan bathin pada bagian selatan dimulai dari pulau Batuatas sampai Pulau Moromahu
  2.  Mojina Silea mempunyai wilayah pengawasan pertahanan kebathinan sebelah timur dari Pulau Moromahu sampai Pulau Wawoni’i.
  3.  Mojina Peropa mempunyai wilayah pengawasan kebathinan sebelah utara dari Pulai Wawoni’i sampai Pulau Sagori
  4.  Mojina Waberongalu mengawasi wilayah barat dari Pulau Sagori sampai Pulau Batuatas.

Pada Prinsipnya bahwa sistem pertahanan yang diterapkan oleh pemerintah Kesultanan Buton tidak berdiri sendiri melainkan satu kesatuan yang tak terpisahkan antara Barata, Matana Sorumba, Pata Limbona, maupun pertahanan Bhisa Patamiana dengan menerapkan sistem pertahanan rakyat semesta secara keseluruhan, tak terkecuali bila ada gangguan, serangan dari pihak musuh maka secara spontan seluruh lapisan masyarakat mengambil bagian untuk berjuang menghancurkan musuh dalam rangka mempertahankan Kesultanan Buton.

RIWAYAT HIDUP SULTAN HIMAYATUDDIN MUHAMMAD SAIDI(Oputa Yikoo”)

Nama                           :  Himayatuddin Muhammad Saidi
Tempat/Tgl. Lahir       :  Wolio Buton, tahun 1701
Agama                         :  Islam
Istri                              :  Gelar “Baluna Oputa Yikoo
Anak                           :  1. La Ode Harikiama
2. La Ode Pepago
3. Wa Ode Wakato

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
1707-1714                  Memasuki pendidikan keluarga yang dikenal dengan Pendidikan Informal, seperti pendidikan ahlak dan budi pekerti yang berlangsung di lingkungan keraton. Selain pendidikan ahlak diajarkan pula pengenalan membaca Alqur’an dalam Pendidikan Halaka. Pada fase ini diperkenalkan pula Pendidikan penegenalan  tata krama dalam Istana sebagai “Belo Bamba” tugas pengkaderan bagi anak-anak kaomu dalam Keraton
1714-1721                  Memasuki usia dewasa mengikuti pendidikan bela diri, mendalami kebhatinan dan memperdalam kandungan Al Qur’an, hingga memasuki Pendidikan Keraton dalam lingkungan Istana dengan tugas-tugas pengkaderan dalam bidang politik dalam lingkungan Keraton.
PENGALAMAN KERJA
1721-1728                  Mengikuti proses pendidikan bagi anak-anak kaomu yang terpilih. Memperdalam pemahaman kandungan Al Qur’an, ilmu pemerintahan dan kepemimpinan, hingga pada tingkat Kesufian. Memasuki dunia birokrasi dalam lingkungan Istana sebagai tugas awal pengkaderan bagi anak-anak kaomu mengabdi dalam Istana Kesultanan  Keraton Buton
1728-1738                  Diangkat menjadi Lakina Kambowa, sebagai jabatan Kepala wilayah pemerintahan bawahan
1738-1750                  Diangkat menjadi Kapita Lau Matana eo (Panglima Pertahanan Keamanan Wilayah Timur), adalah sebuah jabatan yang berkedudukan di pusat pemerintahan Istana Keraton Kesultanan.
1750-1752                  Terpilih menjadi Sultan Buton ke-20, oleh Dewan Sara Siolimbona menggantikan mertuanya Sultan La Ngakariyriy yang meninggal dunia tahun 1749.
1752                               Memerintahkan Sabandara untuk menangih Bea cukai pelabuhan terhadap Kapal Pesiar Belanda Rust en Werk yang berlabuh di Bau-Bau. Perintah Sultan melalui Kapita Lau dan Sabandara ditolak oleh Kapten Kapal Rust en Werk menyebabkan terjadinya ketegangan kedua belah pihak. Dalam tahun yang sama Frans Frous seorang pelarian politik kebangsaan Belanda dari Kantor Sekretaris Pemerintah Belanda di Bulukumba mencari perlindungan di Buton. Frans Frous bekerjasama dengan Sultan  memerintahkan untuk menenggelamkan Kapal Rust en Werk  menangkap dan membunuh anak buah kapal beserta penumpangnya diserahkan kepada sultan.
Masih dalam tahun ini Sultan Himayatuddin dimakzulkan dari jabatan Sultan Buton oleh Dewan Siolimbona. Pemecatan ini diterima dengan baik oleh sultan Himayatuddin dengan maksud agar tidak terjadi perang terbuka antara Buton dengan Belanda.
1752-1755                  Membuat pertemuan rahasia dengan Sultan Hamim. Himayatuddin mengambil alih Komando Strategi Pertahanan dan Perlawanan terhadap Belanda. Ganti rugi akibat pengrusakan Kapal Rust en Werk yang harus dibayar dengan 100 orang budak untuk dipekerjakan tidak dipenuhi pihak kesultanan. Bahkan ganti rugi itu hanya mengirimkan anak-anak dan orang tua yang sudah tidak bisa bekerja, sebagai tanda perlawanan pihak Buton. Menurut pihak Belanda ini adalah sebuah pembangkangan yang dilakukan oleh pihak Sultan Buton.
24 Pebruari 1755        Perang Buton “Kaheruna Walanda” meletus, pendaratan Pasukan Belanda dipimpin Komandan Rijweber  pada dinihari pukul 00 pasukan Belanda bergerak dari pantai memanjat tebing-tebing terjal menuju titik sasaran dipintu gerbang “Lawana Labunta” pada subuh hari tepat para penjaga membuka pintu gerbang pasukan Belanda menyerbu menembakkan senjata mesin membunuh para pengawal penjaga pintu.
Perang semakin sengit dari dalam Keraton pasukan Kesultanan memberikan perlawanan, beberapa pejabat kesultanan gugur antara lain Kapita Lau La Ode Sungkuabuso, Sapati, Bonto Ogena.  Pasukan Belanda terus bergerak maju menuju Istana Sultan Hamim pengawal sultan melakukan perlawanan yang tidak seimbang. Himayatuddin mengambil alih pimpinan perlawanan setelah diketahui Kapita Lau telah gugur. Segera mengomandokan perlawanan dengan mengalihkan sasaran kepada pusat pertahanan di Istananya dengan maksud untuk memberi kesempatan Sultan Hamim menyingkir keluar Benteng Keraton. Istana Himayatuddin dikepung pasukan Belanda, beliau memberikan perlawanan dan beberapa orang pasukan Belanda dibunuhnya dengan keris dan akhirnya Himayatuddin lolos dari kepungan pasukan Belanda melalui pintu belakang Benteng Keraton menuju Wasinabui.
1755-1760                  Longmarc meninggalkan Benteng Keraton Buton menuju Benteng Pertahanan Gunung Siontapina. Setelah tiba disana mengumumkan Perang Geriliya terhadap Belanda. Menyiapkan srtategi perlawanan dengan membentuk pusat-pusat pengintaian dan pertahanan
1760-1763                  Dewan Siolimbona kembali mengangkat beliau menjadi Sultan Buton yang ke-23. Rakyat mendukung keputusan Dewan Siolimbona, karena kondisi kesultanan ketika itu tidak menentu. Tekanan-tekanan Belanda semakin menyulitkan pemerintah dan rakyat.
1763-1770                  Kembali ke Gunung Siontapina sebagai seorang sufi dan guru agama. Diakhir masa tuanya tetap memberikan semangat perlawanan terhadap Belanda. Ia selalu berkeliling di wilayah kadie-kadie di pantai Timur Buton untuk bersatu memberikan perlawanan dalam model perlawanan rakyat semesta. Melakukan mobilisasi umum dan memerintahkan seluruh rakyat untuk menyiapkan logistik perang. “Kampiri” tempat penyimpanan bahan makanan dari hasil perkebunan dan perlengkapan masak yang disiapkan oleh rakyat dipinggir-pinggir hutan untuk persiapan perang.